Sabtu, 07 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 17)



Hari menjelang malam, namun utusan Sang Ratu yang ditunggu-tunggu untuk menjemputnya tak kunjung datang. Sedang kondisi Sahrul sedari tadi tak kunjung berubah. Tak pernah dia mengalami ereksi yang begitu lama seperti ini. Sudah dicobanya untuk melakukan sesuatu secara swalayan sebelum bertemu Sang Ratu. Namun usahanya itu tidak mengurangi hasratnya untuk berhubungan dengan seorang wanita.
Menjelang malam, dimana semua orang sudah banyak yang tertidur, Sahrul dikejutkan oleh bau harum menyengat yang menusuk hidungnya. Diingat-ingatnya bau harum yang menusuk hidungnya itu entah dimana dia pernah merasakannya. Namun selalu gagal. Aroma itu memang pernah singgah dihidungnya, namun sulit bagi Sahrul untuk mengingat situasi yang dialaminya itu.

Jumat, 06 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 16)



“Kemana? Bagaimana dengan ini?” tanyanya sambil menunjuk kearah selangkangannya yang sedari tadi tidak mau turun dan mengendur. “Tanggungjawablah” tambahnya.
“Tugasku hanya mempersiapkan kamu menghadapi Sang Ratu. Selanjutnya terserah kamu mau kamu apakan punyamu itu” jawabnya sambil tersenyum menggoda.
Mayang berlalu dari ruang tamu itu. Sementara baju yang tadi dipakai Sahrul dibawanya. Tentu saja Sahrul amat kebingungan. Betapa tidak. Birahinya memuncak hebat akibat pijatan yang dilakukan Mayang kepadanya tadi. Dicobanya untuk mengendalikan diri, namun keinginannya untuk menyalurkan hasrat birahinya semakin tinggi.

Kamis, 05 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 15)



Tak jauh dari tikungan tadi, mata Sahrul begitu terpana menatap kesatu arah dihadapannya. Langkahnya tanpa sadar terhenti walau hanya untuk beberapa jenak. Tak jauh dihadapannya berdiri megah sebuah bangunan yang pantas dikatakan istana. Memang dibanding dengan bangunan-bangunan di kampungnya Lubuk Pisang, rumah-rumah di Lubuk Lungun ini jauh lebih bagus. Namun istana Sang Ratu yang akan dikunjunginya itu ternyata keindahannya jauh diluar dugaan Sahrul. Bangunan itu berdiri megah dengan hiasan mengkilau bagaikan sisik ikan emas yang mengelilingi seluruh dinding bangunan itu. Sangat sulit bagi Sahrul untuk mengungkapkan kekagumannya dengan kata-kata karena baru kali ini dia menyaksikan kemegahan seperti itu sehingga dia tidak tahu lagi sebutan untuk keindahan yang begitu rupa. Hanya saja dari tatapan matanya, jelas sekali kalau Sahrul sangat terpesona, bahkan terkejut menyaksikan pemandangan dihadapannya.

Rabu, 04 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 14)



Ranti dan Sahrul yang dari tadi menunggu-nunggu kedatangan rombongan penjemput tak ketinggalan berdiri seraya menfokuskan pandangannya kearah pintu. Sinaran mata yang berseri-seri terpancar dari mata Ranti nan indah. Entah apa yang akan diperoleh suaminya dihadapan Sang Ratu nantinya, namun dari mimik mukanya yang menunjukkan kebahagiaan itu nampaknya Ranti sudah mengetahui apa yang akan dialaminya suaminya nanti.

Selasa, 03 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 13)




Esok hari yang dikatakan Ranti sebagai hari dimana Sahrul harus menemui Sang Ratu usai pesta hari ketiga itu benar-benar membayangi pikiran Sahrul. Bagaimanapun juga dia sudah menyaksikan kecantikan Sang Ratu yang dinilainya tiada bandingannya. Bahkan dengan istrinya yang baru ini sekalipun. Apalagi kerlingan mata Sang Ratu yang genit yang membuat Sahrul tak kuasa menahan gejolak birahinya. Apa jadinya jika besok malam ternyata dia dipanggil untuk menghadap Sang Ratu dan dia sendiri tak mampu menguasai diri. Perasaan takut berbuat kurang sopan dihadapan Sang Ratu itu membuat Sahrul tak nyenyak tidurnya malam itu. Dalam pertarungannya menghadapi serangan-serangan birahi yang dilancarkan Ranti tadi dia memang menikmatinya. Namun setelah Ranti tertidur pulas , dia sendiri justru tak bisa tidur memikirkan apa yang akan terjadi besok. Dan apa yang akan disampaikan Sang Ratu kepadanya besok. Bingung memikirkan tentang apa yang akan melanda hidupnya besok ketika berhadapan dengan Sang Ratu membuat Sahrul akhirnya tertidur juga menjelang subuh. Itupun setelah Sahrul bisa pasrah pada nasibnya besok. Entah apa yang akan terjadi terjadilah, pikirnya sehingga otaknya yang lelah mengizinkan matanya untuk terpejam dalam dinginnya embun pagi yang mulai mengusik nyenyaknya tidur rerumputan diluar rumah.

Senin, 02 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 12)



Entah sudah berapa kali Sahrul dan Ranti bermesraan meskipun dihadapan tetamu yang juga sibuk dengan obrolan mereka sendiri-sendiri. Mulanya Sahrul agak grogi untuk meladeni kemesraan Ranti di depan para undangan. Namun setelah dilihatnya Ranti juga tidak begitu hirau, akhirnya Sahrul mulai bersikap acuh akan keadaan disekelilingnya. Sekian lama diacuhkan dan mengacuhkan tamu dengan hanya bermesraan saja membuat Sahrul merasa tak tahan. Dengan sedikit kode melalui kerlingan mata dan gerakan bibir yang dimanyunkan, Sahrul beruasaha mengisyaratkan kepada Ranti bahwa dia sedang ingin meningkatkan kemesraan lebih jauh.

Minggu, 01 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 11)



Lama terdiam dalam lamunannya, Sang Ratu sadar akan apa yang  telah dan harus dia perbuat, segera dia bangkit dan menghadap ke arah altar. Kedua penganten juga segera bangkit dan menundukkan kepalanya ke arah altar.
Sejalan dengan apa yang dilakukan Sang Ratu, warga yang hadir disana dengan segera menjatuhkan diri dan bersujud dengan mengandalkan kekuatan kepala mereka masing-masing sebagai penopang badannya. Sementara tangan mereka terjulur kearah muka dan diam disana. Sementara Ranti dan Sahrul tidak seperti sebelumnya, sekarang mereka tidak perlu lagi bersujud melepas kepergian Sang Ratu. Mereka cukup berdiri dan memandang kepergian Sang Ratu saja.