Sabtu, 14 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 24)



Sahrul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mertuanya begitu bahagia bisa menikmati permainan gila itu. Dipikir-pikirkanya kembali, betapa sebenarnya dia harus mengakui hebatnya permainan yang dimainkan mertuanya itu. Memang dari keempat wanita yang digaulinya dikampung itu, Ratih memiliki keistimewaan tersendiri. Terutama mungkin karena mereka baru pertama kali melakukannya. Lagi pula mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi bagaikan seorang pencuri.

Jumat, 13 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 23)



Tangannya sudah memainkan minyak gosok yang diraupnya dari cawan yang dibawanya tadi. Sementara tangannya yang satu lagi menarik-narik baju Sahrul menyuruh dibuka.
“Iyalah, bu. Maaf jadi merepotkan ibu” kata Sahrul. Sementara rangsangan birahinya masih belum juga terkendali. Betapa groginya dia menghadapi mertuanya yang begitu baik sementara kondisi onderdilnya masih belum bisa diajak kompromi.
Pijatan demi pijatan dilakukan ibu mertuanya dipunggung Sahrul. Jangankan hilang rangsangan yang dirasakannya tadi, justru sekarang rangsangan birahi itu semakin kuat terasa. Memang berbeda pijatan yang dilakukan Mayang dengan ibunya Ranti ini. Apa yang dilakukan Ratih benar-benar ditujukan untuk menghilangkan letih yang dirasakan menantunya itu. Namun rangsangan kuat tetap saja dirasakannya.

Kamis, 12 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 22)



“Kenyataan apa? Sudahlah, bang. Lebih baik sekarang abang istirahat dan melalui hidup indah kita sebagaimana selalu kita lakukan” kata Ranti sambil berusaha merayu dan menarik tangan suaminya itu. Namun dibalik bujukannnya untuk melupakan masalah itu, ada suatu ketegasan dan perintah yang diberikannya kepada suaminya untuk tidak mengingat yang macam-macam.
Tanpa berpikir lagi, Sahrul mengikuti bujukan istrinya dan berusaha melupakan apa yang baru saja dipikirkannya. Mungkin juga memang aku hanya berkhayal, pikirnya kembali bersikap sebagaimana biasanya.
Memang setelah puluhan tahun tinggal di kampung itu dengan menghabiskan hari-harinya untuk melayani ketiga wanita haus seks itu, Sahrul tidak ingat sedikitpun kalau dia bukan berasal dari kampung itu dan dia masih memiliki kampung, orang tua, dan istri ditempat lain. Tidak sedikitpun ingatannya tertuju pada kondisi suatu hari dimasa lalu dimana dia adalah warga desa Lubuk Pisang dan masih memiliki istri.

Rabu, 11 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 21)



Memang kebutuhan hidup dan makanan orang kampung itu rata-rata berupa ikan segar yang dimasak dengan berbagai resep dan selera penduduk. Sahrul sendiri sebetulnya merasa aneh dengan adanya makanan yang hanya terdiri dari ikan-ikan segar itu. Namun lama kelamaan akhirnya dia terbiasa dengan hanya memakan ikan tanpa adanya nasi dan lauk pauk lainnya. Memang pernah ditanyakannya hal tersebut kepada istrinya, namun istrinya menjawab dengan ucapan-ucapan yang seakan-akan dia tersinggung atas pertanyaan itu. Akhirnya Sahrul hanya bisa meminta maaf dan tidak pernah menanyakannya lagi.
Di istanapun dia selalu disuguhkan dengan makanan-makanan yang berasal dari sungai, namun rasa dan aroma makanannya jauh lebih enak dan lezat dibanding apa yang didapatnya dirumah Ranti.

Selasa, 10 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 20)



Sesampainya mereka diruang dalam, kembali kedua penganten itu bersanding. Kali ini mereka tidak bisa kemana-mana karena banyaknya tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka. Tidak seperti hari-hari kemarin dimana para tamu nampaknya tidak terlalu menghiraukan penganten yang duduk bersanding di pelaminan, hari ini mereka justru antusias mengucapkan selamat kepada kedua penganten.
“Kenapa kemarin mereka tidak mengucapkan selamat? Kok baru sekarang?” tanya Sahrul.
“Mereka mengucapkan selamat setelah mendengar dari kepala rombongan tadi bahwa pengabdian abang diterima dengan baik oleh Sang Ratu. Itu merupakan kehormatan bagi kita yang harus mereka beri selamat”jawab Ranti dengan penuh senyum kebahagiaan.
Sahrul semakin bingung. Apakah orang-orang ini tahu bentuk apa dari pengabdian yang diminta Sang Ratu sehingga mereka merasa mendapat kehormatan?

Senin, 09 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 19)



“Maksud kamu.. pijatan yang membuat aku siap tempur seperti kemarin?” tanya Sahrul.
“Ya... baru setelah itu... gliran kita melakukannya” katanya tersipu.
“Bagaimana dengan istriku, Ranti? Bagaimana kalau dia tahu aku melakukan ini dengan Sang Ratu dan kamu?” tanya Sahrul begitu diingatnya betapa akan marahnya Ranti kalau dia tahu apa yang sudah dilakukan suaminya yang baru saja mengawininya.
“Ranti tahu kamu diberi kehormatan oleh Sang Ratu dan dia juga tahu apa bentuk kehormatan itu. Seorang wanita akan sangat bahagia kalau  suaminya terpakai  oleh Sang Ratu yang menjadi sesembahannya” jelas Mayang.

Minggu, 08 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 18)



Didiamkannya saja ketika Sang Ratu meremas tangannya untuk melepas hasrat kerinduannya akan belaian seorang lelaki yang seakan tak pernah didapatkannya. Sopan santun dan kharismanya selaku ratu yang disembah semua warga sudah tidak nampak lagi. Yang dipertontonkan Sang Ratu pada saat itu hanyalah gairah seekor kuda betina yang berusaha mereguk kenikmatan dari lawan yang selama ini didambakannya. Belaian dan cumbuan yang diberikannya pada Sahrul tak terbendung lagi sehingga hasrat birahi Sahrul yang sedari tadi semenjak dipijit oleh Mayang tidak memperoleh pelepasan akhirnya dengan garang diarahkannya pada Sang Ratu yang sudah kehilangan akal sehatnya. Lama mereka bercumbu diruang tamu itu, akhirnya Sang Ratu dengan manja mengajak Sahrul untuk melanjutkan pengabdiannya itu ditempat yang memang sudah disediakan untuknya, bilik peraduan milik Sang Ratu yang tentu saja jauh lebih indah dan wangi dibanding kamar pengantennya di rumah Ranti.