Sahrul hanya
menggeleng-gelengkan kepalanya melihat mertuanya begitu bahagia bisa menikmati
permainan gila itu. Dipikir-pikirkanya kembali, betapa sebenarnya dia harus
mengakui hebatnya permainan yang dimainkan mertuanya itu. Memang dari keempat
wanita yang digaulinya dikampung itu, Ratih memiliki keistimewaan tersendiri.
Terutama mungkin karena mereka baru pertama kali melakukannya. Lagi pula mereka
melakukannya secara sembunyi-sembunyi bagaikan seorang pencuri.
Sabtu, 14 Februari 2015
Jumat, 13 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 23)
Tangannya sudah memainkan minyak gosok yang diraupnya
dari cawan yang dibawanya tadi. Sementara tangannya yang satu lagi
menarik-narik baju Sahrul menyuruh dibuka.
“Iyalah, bu. Maaf jadi merepotkan ibu” kata Sahrul.
Sementara rangsangan birahinya masih belum juga terkendali. Betapa groginya dia
menghadapi mertuanya yang begitu baik sementara kondisi onderdilnya masih belum
bisa diajak kompromi.
Pijatan demi pijatan dilakukan ibu mertuanya
dipunggung Sahrul. Jangankan hilang rangsangan yang dirasakannya tadi, justru
sekarang rangsangan birahi itu semakin kuat terasa. Memang berbeda pijatan yang
dilakukan Mayang dengan ibunya Ranti ini. Apa yang dilakukan Ratih benar-benar
ditujukan untuk menghilangkan letih yang dirasakan menantunya itu. Namun
rangsangan kuat tetap saja dirasakannya.
Kamis, 12 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 22)
“Kenyataan apa?
Sudahlah, bang. Lebih baik sekarang abang istirahat dan melalui hidup indah
kita sebagaimana selalu kita lakukan” kata Ranti sambil berusaha merayu dan
menarik tangan suaminya itu. Namun dibalik bujukannnya untuk melupakan masalah
itu, ada suatu ketegasan dan perintah yang diberikannya kepada suaminya untuk
tidak mengingat yang macam-macam.
Tanpa berpikir lagi, Sahrul
mengikuti bujukan istrinya dan berusaha melupakan apa yang baru saja
dipikirkannya. Mungkin juga memang aku hanya berkhayal, pikirnya kembali
bersikap sebagaimana biasanya.
Memang setelah puluhan
tahun tinggal di kampung itu dengan menghabiskan hari-harinya untuk melayani
ketiga wanita haus seks itu, Sahrul tidak ingat sedikitpun kalau dia bukan
berasal dari kampung itu dan dia masih memiliki kampung, orang tua, dan istri
ditempat lain. Tidak sedikitpun ingatannya tertuju pada kondisi suatu hari
dimasa lalu dimana dia adalah warga desa Lubuk Pisang dan masih memiliki istri.
Rabu, 11 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 21)
Memang kebutuhan hidup
dan makanan orang kampung itu rata-rata berupa ikan segar yang dimasak dengan
berbagai resep dan selera penduduk. Sahrul sendiri sebetulnya merasa aneh
dengan adanya makanan yang hanya terdiri dari ikan-ikan segar itu. Namun lama
kelamaan akhirnya dia terbiasa dengan hanya memakan ikan tanpa adanya nasi dan
lauk pauk lainnya. Memang pernah ditanyakannya hal tersebut kepada istrinya,
namun istrinya menjawab dengan ucapan-ucapan yang seakan-akan dia tersinggung
atas pertanyaan itu. Akhirnya Sahrul hanya bisa meminta maaf dan tidak pernah
menanyakannya lagi.
Di istanapun dia
selalu disuguhkan dengan makanan-makanan yang berasal dari sungai, namun rasa
dan aroma makanannya jauh lebih enak dan lezat dibanding apa yang didapatnya
dirumah Ranti.
Selasa, 10 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 20)
Sesampainya mereka diruang
dalam, kembali kedua penganten itu bersanding. Kali ini mereka tidak bisa
kemana-mana karena banyaknya tamu yang mengucapkan selamat kepada mereka. Tidak
seperti hari-hari kemarin dimana para tamu nampaknya tidak terlalu menghiraukan
penganten yang duduk bersanding di pelaminan, hari ini mereka justru antusias
mengucapkan selamat kepada kedua penganten.
“Kenapa kemarin mereka tidak
mengucapkan selamat? Kok baru sekarang?” tanya Sahrul.
“Mereka mengucapkan selamat
setelah mendengar dari kepala rombongan tadi bahwa pengabdian abang diterima
dengan baik oleh Sang Ratu. Itu merupakan kehormatan bagi kita yang harus
mereka beri selamat”jawab Ranti dengan penuh senyum kebahagiaan.
Sahrul semakin bingung.
Apakah orang-orang ini tahu bentuk apa dari pengabdian yang diminta Sang Ratu
sehingga mereka merasa mendapat kehormatan?
Senin, 09 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 19)
“Maksud kamu.. pijatan yang
membuat aku siap tempur seperti kemarin?” tanya Sahrul.
“Ya... baru setelah itu...
gliran kita melakukannya” katanya tersipu.
“Bagaimana dengan istriku,
Ranti? Bagaimana kalau dia tahu aku melakukan ini dengan Sang Ratu dan kamu?”
tanya Sahrul begitu diingatnya betapa akan marahnya Ranti kalau dia tahu apa
yang sudah dilakukan suaminya yang baru saja mengawininya.
“Ranti tahu kamu diberi
kehormatan oleh Sang Ratu dan dia juga tahu apa bentuk kehormatan itu. Seorang
wanita akan sangat bahagia kalau
suaminya terpakai oleh Sang Ratu yang
menjadi sesembahannya” jelas Mayang.
Minggu, 08 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 18)
Didiamkannya saja ketika
Sang Ratu meremas tangannya untuk melepas hasrat kerinduannya akan belaian
seorang lelaki yang seakan tak pernah didapatkannya. Sopan santun dan
kharismanya selaku ratu yang disembah semua warga sudah tidak nampak lagi. Yang
dipertontonkan Sang Ratu pada saat itu hanyalah gairah seekor kuda betina yang
berusaha mereguk kenikmatan dari lawan yang selama ini didambakannya. Belaian
dan cumbuan yang diberikannya pada Sahrul tak terbendung lagi sehingga hasrat
birahi Sahrul yang sedari tadi semenjak dipijit oleh Mayang tidak memperoleh
pelepasan akhirnya dengan garang diarahkannya pada Sang Ratu yang sudah
kehilangan akal sehatnya. Lama mereka bercumbu diruang tamu itu, akhirnya Sang
Ratu dengan manja mengajak Sahrul untuk melanjutkan pengabdiannya itu ditempat
yang memang sudah disediakan untuknya, bilik peraduan milik Sang Ratu yang
tentu saja jauh lebih indah dan wangi dibanding kamar pengantennya di rumah
Ranti.
Langganan:
Postingan (Atom)





