Merasa heran dengan tamu yang datang rata-rata
perempuan, Sahrul bertanya kepada Ranti tentang kemana perginya lelaki di desa
itu, termasuk ayah Ranti sendiri yang sedari tadi tidak pernah nampak. Namun
hanya senyum kecil yang diperlihatkan Ranti sembari menatap Sahrul dengan
tatapan lembut seakan ingin menyantap Sahrul hidup-hidup. Melihat gairah yang terpancar
dari tatapan mata Ranti itu, Sahrul akhirnya melupakan pertanyaannya sendiri.
Dinikmatinya kembali keelokan wajah dan tubuh Ranti dengan matanya yang seakan
tidak berkedip sedetikpun. Memang baru kali ini Sahrul melihat dan berdekatan
dengan wanita yang sangat cantik.
Jumat, 23 Januari 2015
Rabu, 21 Januari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 2)
“Bu... bukan begitu. Rasanya baru sekali ini abang
melihat adik ini didesa ini. Apakah adik baru datang dari kota atau sedang
kesasar disini?” tanya Sahrul memberanikan diri. Kondisi badannya yang tidak
berpakaian dan hanya mengenakan celana dalampun tidak disadari oleh Sahrul
padahal reaksi dari balik celana dalamnya menunjukkan betapa kagum dan terangsangnya
Sahrul akan keelokkan tubuh wanita itu. Tapi karena dia tidak mendengar ada
nada protes dan perasaan malu dari si wanita dalam menghadapi Sahrul yang hanya
berpakaian celana dalam, membuat Sahrul semakin tidak menyadari kalau dirinya
belum berpakaian.
Selasa, 20 Januari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 1)
Seiring
meningginya matahari pagi, yang disertai kicauan burung Murai yang hinggap di
pohon jeruk nipis dibelakang rumah, Siti telah pula selesai membersihkan Udang
yang akan digulainya sebagai menu istimewa yang akan disuguhkannya pada
suaminya hari ini. Kendati sudah terbangun dari tidurnya, namun Sahrul, suami
tercintanya agaknya masih malas-malasan untuk bangun dari tempat tidurnya yang
hangat. Tentunya Siti sangat memaklumi jika Sahrul masih juga malas bangun
karena sebagai penganten baru Sahrul masih belum mulai membuka tokonya tempat
mencari nafkah sehari-hari. Biarlah dia menikmati indahnya pagi ini ditempat
tidur, pikir Siti. Sementara dirinya sendiri tidak mungkin harus
bermalas-malasan juga seperti suaminya karena sebagai seorang istri dia harus mempersiapkan makanan untuk makan
siang mereka. Apalagi sebagai orang desa mereka tidak punya pembantu, sedang
untuk membebankan tugas pengurus rumah tangga tidak mungkin diserahkannya
kepada ibunya, walaupun mereka masih penganten baru yang menikah enam hari yang
lalu.
Langganan:
Postingan (Atom)


