Selasa, 03 Maret 2015

Penganten Rang Bunian (Part 34)



Kuat sekali keinginan Sahrul untuk mengetahui masalah yang sedang dihadapi istrinya. Namun untuk menanyakannya tentunya dia tidak berani. Sebab jika masalah itu ditanyakannya tentu Ranti akan mengetahui kalau dirinya diikuti dalam perjalanan malamnya dengan ayahnya Bandri. Sedang sikap Ranti sehari-hari biasa saja dan tidak menunjukkan sedikitpun kegusaran atau wajah murung. Bahkan belakangan ini dilihatnya Ranti lebih bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi suaminya. Tidak banyak tuntutan seks yang diajukan Ranti. Kalau Sahrul mengajaknya bercumbu, Ranti memang menanggapinya dengan antusias, namun kalau inisiatif itu tidak datang dari Sahrul maka dia sendiri tidak hendak memulai pergumulan sebagaimana dulu-dulu dimana dia yang selalu mengajukan inisiatif penyerangan.

Sabtu, 28 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 33)



Namun betapapun, ada tidaknya Ranti telah memberi kenikmatan tersendiri bagi Sahrul, rasa penasarannya akan rutinitas baru istrinya yang selalu pergi itu membuat dia bertanya-tanya dalam hati. Untuk menanyakan kepada Ratih atau Ranti selalu saja jawabannya untuk mengurus sesuatu urusan di kampung seberang. Rasa penasaran dan curiga itu pulalah yang membuat Sahrul nekad suatu hari mengikuti istri dan mertuanya yang keluar rumah sore itu. Tanpa setahu Ratih dan Ranti, dia juga berlalu dari rumah itu sewaktu Ranti dan Bandri baru saja pergi. Dari kejauhan dicobanya untuk mengintai kepergian istrinya ke kampung seberang. Untuk tidak menimbulkan kecurigaan, dia berusaha mengikuti mereka dari jarak aman yang cukup jauh.

Jumat, 27 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 32)



“Sangat sulit bagi kita untuk melawan kekuatan pikiran suamimu itu Ranti. Nampaknya dia begitu penasaran dan berpikir keras untuk mengingat jalan masuk ini. Satu-satunya cara yang mungkin bisa membuat dia melupakan jalan ini hanyalah dengan menjaga jalan ini setiap hari dari pengaruh pikiran suamimu yang semakin hari semakin membuka terang jalan ini”
“Caranya, Yah?”
“Kita harus setiap hari datang dan membacakan mantera ke sini. Disamping itu kamu juga harus berusaha membaca pikiran dan mengendalikan pikiran suamimu itu”

Penganten Rang Bunian (Part 31)



Dalam perjalanan pulang, bukan lagi keberadaan istrinya yang entah dimana yang dipikirkan Sahrul. Yang ada di benaknya saat ini adalah keberadaan orang yang terlihat membawa suluh dari kejauhan tadi. Padahal dia sendiri kemarin menelusuri jalan itu dan ternyata jalan itu hanya terbuka beberapa puluh meter saja. Sedang jarak orang yang membawa suluh tadi tidak kurang dari tiga ratus meter dari jarak jalan dimana Sahrul berdiri.
Dirumahpun tidak dihiraukannya lagi belum pulangnya istrinya sedari tadi. Namun untuk tidak menimbulkan kecurigaan Ratih akan perginya anaknya itu, Sahrul menanyakan juga keberadaan Ranti kepada ibunya itu.
“Biar sajalah. Dia sedang pergi dengan suamiku mencari sesuatu yang mungkin saja dibutuhkannya. Besok juga dia pasti akan pulang” jawab Ratih enteng. Nampaknya kepergian Ranti memberi kebahagiaan tersendiri bagi Ratih karena kepergian anaknya itu berarti memberi kesempatan bagi Ratih untuk mengambil jatahnya dengan Sahrul.

Rabu, 25 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 30)



“Ranti harus diperingatkan. Jangan sampai dia lepas kendali terhadap suaminya itu” sabda Sang Ratu.
“Telah hamba sampaikan peringatan itu, Yang Mulia. Saat ini Ranti telah menyadari kekeliruannya dan dia berjanji untuk memendam perasaannya dan bersikap lebih bijak dalam mengendalikan suaminya itu”
“Sampaikan juga kepadanya kalau aku tidak ingin hal-hal buruk menimpa hubungannya dengan suaminya itu. Aku berkepentingan akan keberadaan Sahrul disini” kata Sang Ratu tanpa menjelaskan lebih lanjut apa kepentingan yang dia maksud. Namun tentunya Mayang mengerti apa kepentingan Sang Ratu yang tidak ingin Sahrul lari dari kampung mereka.

Penganten Rang Bunian (Part 29)


Kendati mendengar langsung cerita lama yang memilukan dari Sang Ratu, bukan berarti Sahrul akan melupakan begitu saja rasa penasarannya akan jalan yang pernah ditemuinya dan kemudian hilang dengan tiba-tiba itu. Dihadapan Ranti memang dia seakan telah melupakan jalan yang membuat dia yakin pernah punya kenangan itu, namun kenyataannya bayangan akan jalan yang pernah di tempuhnya sampai tengah hutan masih kuat diingatannya. Tanpa bermaksud menyusahkan istrinya yang juga memikirkan masalah itu. Sahrul secara diam-diam tetap berusaha mengamati jalan yang pernah dilihatnya. Siapa tahu secara tidak sengaja pula dia kembali dapat melihat jalan itu.

Senin, 23 Februari 2015

Penganten Rang Bunian (Part 28)



“Itulah yang menyakitkan hatiku. Entah apa yang dicarinya, dia meninggalkan aku. Makanya aku tak ingin menikah lagi. Kalaupun aku memerlukan kehangatan seorang lelaki, aku akan mendapatkannya melalui kekuasaanku. Seperti halnya saat ini aku menginginkanmu” katanya seakan menyesali kepergian suaminya tanpa alasan yang jelas.

Lama terdiam, akhirnya tanpa diminta Sang Ratu menceritakan juga kisah menyakitkan yang dialaminya dengan bekas suaminya itu. Entah maksudnya untuk berterus terang kepada Sahrul atau memang Sang Ratu sendiri tengah larut dalam kenangan masa lalu yang pernah direngguknya dengan mantan suaminya dulu.