Kuat sekali keinginan Sahrul
untuk mengetahui masalah yang sedang dihadapi istrinya. Namun untuk
menanyakannya tentunya dia tidak berani. Sebab jika masalah itu ditanyakannya
tentu Ranti akan mengetahui kalau dirinya diikuti dalam perjalanan malamnya
dengan ayahnya Bandri. Sedang sikap Ranti sehari-hari biasa saja dan tidak
menunjukkan sedikitpun kegusaran atau wajah murung. Bahkan belakangan ini
dilihatnya Ranti lebih bersikap tenang dan sabar dalam menghadapi suaminya.
Tidak banyak tuntutan seks yang diajukan Ranti. Kalau Sahrul mengajaknya
bercumbu, Ranti memang menanggapinya dengan antusias, namun kalau inisiatif itu
tidak datang dari Sahrul maka dia sendiri tidak hendak memulai pergumulan
sebagaimana dulu-dulu dimana dia yang selalu mengajukan inisiatif penyerangan.
Selasa, 03 Maret 2015
Sabtu, 28 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 33)
Namun betapapun, ada
tidaknya Ranti telah memberi kenikmatan tersendiri bagi Sahrul, rasa
penasarannya akan rutinitas baru istrinya yang selalu pergi itu membuat dia
bertanya-tanya dalam hati. Untuk menanyakan kepada Ratih atau Ranti selalu saja
jawabannya untuk mengurus sesuatu urusan di kampung seberang. Rasa penasaran
dan curiga itu pulalah yang membuat Sahrul nekad suatu hari mengikuti istri dan
mertuanya yang keluar rumah sore itu. Tanpa setahu Ratih dan Ranti, dia juga
berlalu dari rumah itu sewaktu Ranti dan Bandri baru saja pergi. Dari kejauhan
dicobanya untuk mengintai kepergian istrinya ke kampung seberang. Untuk tidak
menimbulkan kecurigaan, dia berusaha mengikuti mereka dari jarak aman yang
cukup jauh.
Jumat, 27 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 32)
“Sangat sulit bagi
kita untuk melawan kekuatan pikiran suamimu itu Ranti. Nampaknya dia begitu
penasaran dan berpikir keras untuk mengingat jalan masuk ini. Satu-satunya cara
yang mungkin bisa membuat dia melupakan jalan ini hanyalah dengan menjaga jalan
ini setiap hari dari pengaruh pikiran suamimu yang semakin hari semakin membuka
terang jalan ini”
“Caranya, Yah?”
“Kita harus setiap
hari datang dan membacakan mantera ke sini. Disamping itu kamu juga harus
berusaha membaca pikiran dan mengendalikan pikiran suamimu itu”
Penganten Rang Bunian (Part 31)
Dalam perjalanan
pulang, bukan lagi keberadaan istrinya yang entah dimana yang dipikirkan
Sahrul. Yang ada di benaknya saat ini adalah keberadaan orang yang terlihat
membawa suluh dari kejauhan tadi. Padahal dia sendiri kemarin menelusuri jalan
itu dan ternyata jalan itu hanya terbuka beberapa puluh meter saja. Sedang
jarak orang yang membawa suluh tadi tidak kurang dari tiga ratus meter dari
jarak jalan dimana Sahrul berdiri.
Dirumahpun tidak
dihiraukannya lagi belum pulangnya istrinya sedari tadi. Namun untuk tidak
menimbulkan kecurigaan Ratih akan perginya anaknya itu, Sahrul menanyakan juga
keberadaan Ranti kepada ibunya itu.
“Biar sajalah. Dia
sedang pergi dengan suamiku mencari sesuatu yang mungkin saja dibutuhkannya.
Besok juga dia pasti akan pulang” jawab Ratih enteng. Nampaknya kepergian Ranti
memberi kebahagiaan tersendiri bagi Ratih karena kepergian anaknya itu berarti
memberi kesempatan bagi Ratih untuk mengambil jatahnya dengan Sahrul.
Rabu, 25 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 30)
“Ranti harus
diperingatkan. Jangan sampai dia lepas kendali terhadap suaminya itu” sabda Sang
Ratu.
“Telah hamba sampaikan
peringatan itu, Yang Mulia. Saat ini Ranti telah menyadari kekeliruannya dan
dia berjanji untuk memendam perasaannya dan bersikap lebih bijak dalam
mengendalikan suaminya itu”
“Sampaikan juga kepadanya
kalau aku tidak ingin hal-hal buruk menimpa hubungannya dengan suaminya itu. Aku
berkepentingan akan keberadaan Sahrul disini” kata Sang Ratu tanpa menjelaskan lebih
lanjut apa kepentingan yang dia maksud. Namun tentunya Mayang mengerti apa
kepentingan Sang Ratu yang tidak ingin Sahrul lari dari kampung mereka.
Penganten Rang Bunian (Part 29)
Kendati mendengar
langsung cerita lama yang memilukan dari Sang Ratu, bukan berarti Sahrul akan
melupakan begitu saja rasa penasarannya akan jalan yang pernah ditemuinya dan
kemudian hilang dengan tiba-tiba itu. Dihadapan Ranti memang dia seakan telah
melupakan jalan yang membuat dia yakin pernah punya kenangan itu, namun
kenyataannya bayangan akan jalan yang pernah di tempuhnya sampai tengah hutan
masih kuat diingatannya. Tanpa bermaksud menyusahkan istrinya yang juga
memikirkan masalah itu. Sahrul secara diam-diam tetap berusaha mengamati jalan
yang pernah dilihatnya. Siapa tahu secara tidak sengaja pula dia kembali dapat
melihat jalan itu.
Senin, 23 Februari 2015
Penganten Rang Bunian (Part 28)
“Itulah yang
menyakitkan hatiku. Entah apa yang dicarinya, dia meninggalkan aku. Makanya aku
tak ingin menikah lagi. Kalaupun aku memerlukan kehangatan seorang lelaki, aku
akan mendapatkannya melalui kekuasaanku. Seperti halnya saat ini aku
menginginkanmu” katanya seakan menyesali kepergian suaminya tanpa alasan yang
jelas.
Lama terdiam, akhirnya
tanpa diminta Sang Ratu menceritakan juga kisah menyakitkan yang dialaminya
dengan bekas suaminya itu. Entah maksudnya untuk berterus terang kepada Sahrul
atau memang Sang Ratu sendiri tengah larut dalam kenangan masa lalu yang pernah
direngguknya dengan mantan suaminya dulu.
Langganan:
Postingan (Atom)




